belajar di kota lama


Kota lama, 16 juni 2012
Dimulai dari pukul 8 pagi tadi, saya dan teman-teman pers mahasiswa fakultas bersama menuju ke kota lama, Semarang. Dibimbing oleh mas Adit, wartawan salah satu Koran, kami belajar menulis artikel tentang sejarah. Beliau mengajarkan bagaimana menulis artikel yang baik. Mulai dari pemahaman artikel secara umum sampai hal-hal yang mendetail seperti cara mengolah gaya penulisan, eksploitasi data, dan cara membuat lead yang menggoda.
Kami berdiskusi di bawah pohon rindang yang berada pada taman kecil di sebelah gereja blenduk. Setelah itu, mas Adit mengajak kami jalan-jalan di kawasan kota lama untuk menggali keingin tahuan dan inspirasi dalam menulis artikel. Di sepanjang kawasan itu, kami disuguhkan berbagai bangunan dengan gaya arsitektur kuno. Sangat menarik bagi kami. Mulai dari gereja blenduk saja, terlihat begitu kental akan unsur bangunan dijaman kolonial Belanda.
Selain itu, terdapat banyak lagi bangunan kuno lainnya. Beberapa diantaranya saya perhatikan, bangunan-bangunan tersebut sekarang digunakan menjadi kantor-kantor, seperti kantor asuransi Jiwasraya, Samudra Indonesia Group, Atlas Copce dan Pneumatis center. Suasana disana membawa imajinasi kami ke beberapa abad yang lalu. Jalanannya disusun dari paving, dan sepanjang jalan terdapat lampu-lampu kota bergaya kuno menambah nilai artistic didalamnya.
Selanjutnya kami menyusuri jl. Perkutut, hingga kita sampai pada polder. Kami beristirahat sejenak disana, sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Di sana, banyak pedagang kaki lima dan juga wisatawan. Polder, kolam yang berfungsi membendung air rob itu berukuran cukup besar, mungkin sekitar ¾ lapangan sepak bola. Ditengahnya terdapat mesin penyaring air, meski begitu, air di dalam polder tetap saja keruh dan pekat.
Kami menyusuri jalan lagi, dan meninggalkan polder. Di kanan dan kiri jalanan, ada selokan yang berair keruh dan pekat pula. Selain itu juga berjejer kios-kios kecil di sepanjang jalan.
Perjalanan kami lanjutkan, kami sampai di depan MGM (Marabunta Gedung Multiguna), bangunan gedung ini sangat elegan. Dipercantik dengan dua patung semut merah yang berukuran besar di atap gedung tersebut. Disanalah kami semua mulai merancang outline artikel yang akan kami buat. Sesuai kelompok masing-masing, kami mulai konsultasi dengan mas Adit mengenai artikel yang ingin kami tulis.
Di awali dari Nina dan Nisa, setelah itu mas Faris dan Eko, selanjutnya Riska, Amel dan Ina. Haya dan Hana, lalu diteruskan oleh kelompok Rani, Mima dan Wenny. Saya dan Sandy di kelompok terakhir. Banyak sekali point-point yang sudah kita siapkan. Sesuai dengan inspirasi kita setelah berjalan-jalan menyusuri kota lama.
Misalnya ketidak terawatan lingkungan sangat terlihat disana. Mulai dari jalan paving yang sudah mulai rusak, mengendapnya saluran selokan air, keruh dan pekatnya air di dalam polder, kotornya jalan, rusaknya tembok-tembok bangunan, tidak rapinya kios-kios yang berjajar, ditambah dengan semrawutnya lahan parkir yang membuat lalu lintas jalan tidak bisa berjalan baik.
Keadaan ini sangat disayangkan. Padahal, menurut saya Kota Lama ini memiliki potensi besar sebagai tempat wisata andalan kota Semarang. Coba saja pemerintah lebih memperhatikan nasib kawasan ini. Dengan memperbaiki tingkat kebersihan lokasi, keterawatan bangunan, keindahan tata kota dan kerapihan lahan parkir, tentunya akan menambah nilai estetika, dan dapat menarik wisatawan. Pada akhirnya akan membantu meningkatkan perekonomian daerah dan masyarakat sekitar pula.
Selain point-point itu, saya dan Sandy tertarik pada sejarah Kota Lama itu sendiri. Kami ingin menuliskan tentang fungsi utama pusat Kota Lama di beberapa abad yang lalu dan perbedaannya dengan fungsi yang sekarang. Siapa perancang tata kota, siapa perancang arsitektur bangunan, siapa pemilik dan penguasa bangunan-bangunan ini pada jaman itu. Bagaimana kehidupan masyarakat sekitar pada masa kejayaan kawasan itu dan bagaimana kehidupan yang sekarang.
Setelah kami semua mendiskusikan outline, kami diberi pengarahan oleh mas Adit. Mas Adit mengatakan, outline yang saya dan Sandy buat mengenai keingintahuan kami tentang sejarah Kota Lama ini membutuhkan data yang diperlukan waktu lama untuk mencari. Karena dibutuhkan data-data dari pakar sejarah dan badan khusus. Jadi, akhirnya saya dan Sandy memilih untuk menulis tentang keseharian aktivitas di gereja blenduk, agar hari ini juga kami dapat menyelesaikan artikel itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, acara kami lanjutkan dengan beristirahat dahulu. Kami makan siang dan sholat dzuhur. Usai itu, kami langsung berpencar mencari narasumber dan dokumentasi sebagai data pendukung artikel kami. Sayang sekali saya tidak bisa mengikuti kegiatan sampai selesai dikarenakan saya harus mengikuti tes wawancara beasiswa. Akhirnya sebelum acara selesai, saya meminta ijin pulang ke Tembalang pada mas Faris selaku coordinator kegiatan.

Komentar